Nur

Hari ini saya menghayati kisah hadith ifk.

Menangis hati ini kerana merasakan kerdilnya diri ini untuk sebuah amanah yang besar.

Kadang-kadang kita terlalu hina untuk memperoleh apa yang kita doakan.

Kadang-kadang kita hanya mampu berharap supaya Tuhan kasihan dan masih terus membelai meskipun kita longlai.

Selalunya kita mudah mengukir syukur saat dalam kesenangan,

Tapi lebih mudah lagi mengukir kerutan di wajah di saat susah.

Tuhan, terima kasih atas secangkir peringatan dari SuratMu yang bertajuk An-Nur.

Semakin lama kami menatap suratMu, semakin kami menjadi wanita.

 

Advertisements

Pengumuman


Dari Perak ke negeri Kedah,
Sirih bertepuk pinang dibelah,
Tiba masa untuk melangkah,
Baitul muslim demi ummah,
(Ammar Roslizar, 2011)

Dua hari sudah mengayuh perahu
Seperti hilang segala kuasa
Dua hati pasti takkan bersatu
Kecuali atas kehendak Yang Esa…
(Farah Najwa, 2011)

Doakan Laskarmentari dan Kedai Mamak terus thabat hingga hujung hayat.

Moga Baitul Muslim yang bakal dibina menambah seri dan kekuatan kepada ummah.

Ubay Bin Kaab

Ubay Bin Kaab r.a adalah sahabat nabi yang paling baik bacaan Al Qurannya.

Nabi kata,

“Aqro’ ukum Ubay”

Yang paling pandai baca (al- Quran) dari kalangan kamu adalah Ubay

Apabila turun Surah Bayyinah, Nabi beritahu kepada Ubay bahawa Allah swt suruh nabi baca surah tu kepada Ubay.

Lantas Ubay r.a dengan penuh harapan bertanya,

” Zakaran fil mala’il a’la?!”

“(Allah) sebut namaku pada malaikat di al a’la (langit)?!”

Nabi menjawab,

“Ya, Tuhan sebut namamu pada malaikat di langit..”

Ubay r.a terus menangis teresak-esak.

Tidak tertahan-tahan lagi syahdu dan sendunya. Betapa bertambah iman dan cintanya kepada Allah swt. Adakah sesuatu yang lebih indah daripada diingat dan disebut oleh Tuhan Sekalian Alam?

Dampingilah Al Quranmu wahai du’at, dengan seikhlas hatimu.

Dia pasti sedang melihat.

Siapa tahu..

Barangkali namamu akan disebut-sebut juga disana.

 

 

All The Things She Said

Dulu kecik-kecik, ada beberapa pesanan mama yang selalu mendewasakan aku.

 

“Biar buruk, asalkan bersih…”

“Biar murah, asalkan ikhlas…”

“Biar tak kaya, asalkan hati baik…”

“Biar sedikit rezeki, asalkan berkat…”

 

Setiap saat yang berlalu adalah sejarah. Dan dalam sejarah ada pengalaman dan kenangan.

Apabila tiba waktuku memberi didikan kelak, mudah-mudahan Allah swt mengilhamkan pesanan-pesanan begini juga.

Agar dekat hati mereka dengan Palestina.

 

-Misi Membina Generasi Palestina :)-

Jangan Gugurkan

Wahai para du’at.

Sedarlah akan asal usulmu.

Ketika kalian dalam lumpur jahiliyyah, Islam telah membersihkanmu.

Ketika kalian dalam kehinaan jahiliyyah, dakwah telah memuliakanmu.

Ketika kalian dalam kegelapan jahiliyyah, tarbiyyah telah menerangi hidupmu.

 

Hadirnya dakwah, ibarat titis-titis air hujan yang membasahii bumi tandus yang kering.

Setelah lama ia gersang dan kekeringan,

dakwah datang membawa kelembapan dan kesuburan.

Hijau dan segar pelbagai tumbuhan.

 

Keseimbangan alam ini bergantung kepada kekuatan graviti dakwah.Sepertimana orbit-orbit bumi bergantung kepada graviti matahari.

Belajarlah dari sejarah.

Kerana gugur dakwah, akhirnya gugur khalifah.

 

 

 

Fallujah

Aku akan terus berjuang, 

sehingga setiap gadis menyimpan impian hanya untuk mengahwini pemuda yang beriman yang hatinya mencintai Palestina,

sehingga setiap ibu yang mengandung bercita-cita untuk melahirkan para syuhada’ untuk Palestina,

sehingga setiap bapa mentarbiyyah anak-anaknya seolah-olah esok dia akan menghantar mereka ke medan jihad fisabilillah,

sehingga setiap kali ditanyakan kepada zuriat-zuriat ku ‘apakah cita-cita kalian wahai anakku?’, 

lantas tidak ada jawapan lain kecuali ‘untuk syahid, wahai ibuku’.

Kimian Ave, 9/9/11

 

Fallujah.

Sedang membaca serba sedikit tentang Fallujah, The Hidden Massacre. Siapa nak join saya buat research?

T_T can’t resist my massive interest and passion about war. 

Menjadi Bidadari II

 

Bukan mudah menjadi seorang muslimah. Dibahunya tergalas tanggungjawab yang besar.

Tidak sama cita-cita dan impian seorang muslimah dengan wanita-wanita lain.

Seorang gadis muslimah pasti menyimpan keinginan yang kuat untuk mengahwini seorang pemuda yang hatinya mencintai Allah swt lebih daripada mencintai dirinya.

Seorang isteri muslimah pasti bercita-cita untuk mengandung dan melahirkan zuriat-zuriat yang dapat menyambung perjuangan dan dakwah suami yang tercinta.

Seorang ibu muslimah pasti bercita-cita untuk membesarkan dan mendidik anak-anaknya agar memelihara Al Quran dan menjadi mujahid dan mujahidah yang syahid di jalan Allah swt.

Aku cuba mengamati dan menghayati kisah-kisah para sahabiah yang juga merupakan para isteri dan para ibu ketika zaman Ar Rasul saw. Kebanyakkan mereka juga merupakan pejuang-pejuang yang turun ke medan perang meskipun dalam keadaan sarat mengandung. Dalam kalangan mereka ada yang kehilangan suami dan kesemua zuriatnya di medan jihad fisabilillah tapi beliau masih mampu melafazkan syukur dan mengukir senyum.

Kekuatan mereka benar-benar menggentarkan. Tidak hairanlah zuriat-zuriat yang mereka lahirkan juga benar-benar menggegar dunia.

Kekuatan dan kemampuan untuk menyediakan pakaian perang dan perisai untuk suami dan anak-anak ke medan perang, bagi aku, adalah sesuatu yang tidak mudah. Ibaratnya barangkali seperti seorang ibu yang melahirkan anak kemudian meletakkan bayi itu dalam kandang singa. Adakah seorang ibu yang sanggup berbuat demikian?

Tetapi para ibu dizaman itu berbeda sekali. Apakah rahsia mereka?

Yang pasti, kekuatan, ketabahan dan semangat yang berkobar-kobar itu pastinya tidak terbentuk hanya dalam satu hari. Ia menuntut sebuah proses yang payah.

Sunnatullah benar-benar mengajar kita bahawa manusia ini benar-benar seperti berlian yang hanya terbentuk dengan indahnya only and only if berada di bawah pressure yang sangat sangat tinggi. Tangisan demi tangisan, kesusahan demi kesusahan, penderitaan demi penderitaan adalah PERLU agar terpancarlah ‘berlian-berlian’ iman dan taqwa dari hati kita.

Aku bawakan kepada kalian satu hadith yang sangat menyejukkan hati dan memberikan harapan. Mudah-mudahan Allah swt mengira amal ini sebagai amal soleh dan memberkatinya. ameen.

Imam Ath-Thabrany mengisahkan sebuah hadis yang panjang dari Ummu Salamah. “Wahai, Rasulullah, jelaskanlah kepadaku firman Allah tentang bidadari-bidadari yang bermata jeli?” Beliau menjawab, “Bidadari yang kulitnya putih, matanya jeli dan lebar, serta rambutnya berkilau seperti sayap burung nasar.”

“Lalu, bagaimana tentang firman Allah, ‘Laksana mutiara yang tersimpan baik’.” (QS Alwaqi’ah [56]: 23). Jawabnya, “Kebeningannya seperti mutiara di kedalaman lautan yang tidak pernah tersentuh tangan manusia.”

“Jelaskan lagi kepadaku firman Allah, ‘Di dalam surga-surga itu, ada bidadari-bidadari yang baik-baik dan lagi cantik-cantik’.” (QS Arrahman [55]: 70). Beliau menjawab, “Akhlaknya baik dan wajahnya cantik jelita.”

Saya berkata lagi, “Jelaskanlah firman Allah, ‘Seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan dengan baik’.” (QS Ashshaffat [37]: 49). Beliau menjawab, “Kelembutannya seperti kelembutan kulit yang ada di bagian dalam telur dan terlindung kulit telur bagian luar.”

“Manakah yang lebih utama, wanita dunia atau bidadari yang bermata jeli?” Rasulullah berkata, “Wanita-wanita dunia lebih utama dari bidadari-bidadari yang bermata jeli, sepertimana yang zahir lebih baik daripada yang batin.”

“Karena apa wanita dunia lebih utama dari mereka?” Beliau menjawab, “Karena, shalat, puasa, dan ibadah mereka. Sehingga, Allah meletakkan cahaya di wajah mereka. Tubuh mereka seperti kain sutra, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuning-kuningan, sanggulnya mutiara, dan sisirnya terbuat dari emas.”

 

Jangan lupa doakan diri ini ep.

 

Menjadi Bidadari

Ya Rabbi,

Sungguh  ya Allah, aku tidak pernah layak. 

Andai ku hitung kebaikan-kebaikanku, nescaya takkan pernah cukup untuk membayar kurniaMu.

Andai ku hitung dosa-dosaku, nescaya takkan pernah layak diriku untuk memperoleh ni’matMu.

Andai ku bandingkan diriku dengan mereka, nescaya aku hanyalah debu, padahal mereka permata. 

Allah, layakkah aku menjadi bidadarinya?

********************

Dalam sebuah riwayat dari Bukhari diceritakan bahwa Asma r.ha. sendiri pernah menceritakan tentang keadaan hidupnya.
“Ketika aku menikah dengan Zubair r.a., ia tidak memiliki harta sedikit pun, tidak memiliki tanah, tidak memiliki pembantu untuk membantu pekerjaan, dan juga tidak memiliki sesuatu apa pun. Hanya ada satu unta milikku yang biasa digunakan untuk membawa air, juga seekor kuda. Dengan unta tersebut, kami dapat membawa rumput dan lain-lainnya. Akulah yang menumbuk kurma untuk makanan hewan-hewan tersebut. Aku sendirilah yang mengisi tempat air sampai penuh. Apabila embernya peceh, aku sendirilah yang memperbaikinya. Pekerjaan merawat kuda, seperti mencarikan rumput dan memberinya makan, juga aku sendiri yang melakukannya. Semua pekerjaan yang paling sulit bagiku adalah memberi makan kuda. Aku kurang pandai membuat roti. Untuk membuat roti, biasanya aku hanya mencampurkan gandum dengan air, kemudian kubawa kepada wanita tetangga, yaitu seorang wanita Anshar, agar ia memasakkannya. Ia adalah seorang wanita yang ikhlas. Dialah yang memasakkan roti untukku.”
Ketika Rasulullah saw. sampai di madinah, maka Zubair r.a. telah diberi hadiah oleh Rasulullah saw. berupa sebidang tanah, seluas kurang lebih 2 mil (jauhnya dari kota). Lalu, kebun itu kami tanami pohon-pohon kurma. Suatu ketika, aku sedang berjalan sambil membawa kurma di atas kepalaku yang aku ambil dari kebun tersebut. Di tengah jalan aku bertemu Rasulullah saw. dan beberapa sahabat Anshar lainnya yang sedang menunggang unta. Setelah Rasulullah saw melihatku, beliau pun menghentikan untanya. Kemudian beliau mengisyaratkan agar aku naik ke atas unta beliau. Aku merasa sangat malu dengan laki-laki lainnya. Demikian pula aku khawatir terhadap Zubair r.a. yang sangat pencemburu. Aku khawatir ia akan marah. Memahami perasaanku, Rasulullah membiarkanku dan meninggalkanku. Lalu segera aku pulang ke rumah.
Setibanya di rumah, aku menceritakan peristiwa tersebut kepada Zubair r.a. tentang perasaanku yang sangat malu dan kekhawatiranku jangan-jangan Zubair r.a. merasa cemburu sehingga menyebabkannya menjadi marah. Zubair r.a berkata,
“Demi Allah aku lebih cemburu kepadamu yang selalu membawa isi-isi kurma di atas kepalamu sementara aku tidak dapat membantumu.”

Aku belum jemu.

Allah.

Aku dengar, Kau tidak mudah jemu dengan hambaMu

Sehinggalah mereka jemu kepadaMu.

Dengarnya, selagi mana hambaMu memohon kepadaMu,

dan berharap kepadaMu,

nescaya Kau pasti mengampuni segala dosanya

dan Engkau langsung tidak peduli dosa itu lagi.

Aku dengar,

jika hambaMu mendatangiMu,

dengan dosa setinggi langit pun,

nescaya akan Kau ampuni seluruhnya.

Aku terdengar lagi,

katanya, sekalipun hambaMu mendatangiMu,

dengan dosa-dosa seluas bumi,

pasti Kau mendatanginya,

dengan keampunan seluas bumi juga,

asalkan dia tidak menyekutukanMu sedikitpun.

 

Allah.

Maka apakah yang menghalangiku dari mencari keampunanMU?

Padahal dosa-dosa sudah tidak terhitung dibahuku…

Maka apakah yang memberatkan hati ini dari mengulangi taubat?

Padahal kita tidak penat mengulangi maksiat…

Maka apakah yang mengusutkan dan menyiksa hatimu?

Padahal Tuhanmu menguji kerana mengasihimu…

 

Insan itu mulia dengan ujian.

Bersyukurlah.

Kerana segala yang ditakdirkan Allah itu pasti akan indah di akhirnya.

Baitul Muslim: Antara Mimpi dan Realiti

Tahun demi tahun, barisan du’at yang tidak henti henti berusaha mentajmi’ dan mentakwin terus melahirkan generasi demi generasi ikhwah dan akhwat baru dengan izin dan bantuan Allah swt. Alhamdulillah, usaha-usaha yang dilaksanakan tanpa mengira penat lelah ini seperti tiada penghujungnya. Pasti sentiasa ada dalam kalangan kita yang terus dan terus bersemangat melaksanakan mas’uliyyah dakwah ini. Sepertimana yang Allah swt sebutkan dalam firmanNya:

“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Ali-Imran:104)

Walhamdulillah. Penerusan usaha-usaha pengislahan umat secara konsisten dan istiqamah ini adalah bukti bahawa Allah swt benar-benar memelihara ad DeenNya dan Allah swt pasti akan menyelamatkan dakwah ini. Sekalipun kita tidak bersama-sama dengan angkatan rijal-rijal ini,  gerakan ini akan terus menderu laju. Dan tidak akan menunggu kita, seandainya kita berlengah-lengah.

Maratibul Amal yang dikaji dan disusun oleh syeikh Al Banna sering menjadi sebutan para rijal. Inilah guideline kita, kemana kita menyeru dan apa yang kita cita-citakan. Dari modul awal sehinggalah modul-modul peringkat berikutnya, kesemuanya bermain di sekitar 7 maratib amal tersebut, bermula dari Individu Muslim, Baitul Muslim, Masyarakat muslim dan seterusnya sehinggalah pembinaan Ustaziatul Alam dimana Islam akan menjadi kembali menjadi tumpuan dan ikutan seluruh dunia.

Besarnya cita-cita ini ibarat besarnya sebiji buah yang jatuh dari pokok, tidak mampu dipikul oleh seekor semut hitam kecil. Tapi ia perlukan ribuan semut bekerjasama, dengan semangat dan tekad yang sama, barulah buah tersebut dapat digerakkan, biarpun perlahan-lahan, tapi akan tetap bergerak, dari bawah pokok, kedalam sarang semut-semut tersebut.

Datangnya wasilah-wasilah tarbiyyah meluhur dan menyucikan pemuda-pemudi Islam. Liqo’ demi liqo’ yang berlangsung membersihkan dan mencerahkan kefahaman Islam yang sudah lama dibiarkan terpuruk sepi di celah-celah pembangunan dan kemajuan dunia. Anak-anak muda Islam di seluruh dunia mula membuka mata. Satu demi satu negara menyaksikan kebangkitan rijalul haq yang menempik slogan-slogan kebenaran tanpa ketakutan dan kebimbangan. Pemuda-pemudi kita juga tidak kurang hebatnya. Air yang tenang jangan disangka tiada buaya. Musuh Islam terlalu silap sekiranya mengandaikan bahawa anak-anak muda Islam sudah hanyut seluruhnya. Tidak semudah itu. Pasti ada jiwa-jiwa baru yang sudah rindukan syurga. Jiwa-jiwa inilah yang akan membela.

Tapi aku menulis hari ini kerana kebimbangan yang semakin terasa.

Ramainya akhwat yang terkumpul hari ini, membanjiri medan dakwah di seluruh dunia. Kita boleh mengumpul dan mengumpul, mengaut dan mengaut, tapi penghujungnya, siapa bisa menjamin kita akan terus bersama-sama.

Mungkin masih belum jelas isunya. Isunya adalah baitul du’at. Baitul muslim. Yang sepatutnya membentuk unit asas umat ini. Saat kerajaan Islam gugur jatuh dan lemah dahulu, rata-rata keluarga Islam tidak benar-benar memainkan peranan masing-masing. Keluarga tidak dapat digunakan untuk membina semula Islam sebenar. Segalanya terlalu porak peranda dan masyarakat menjadi keliru tentang apa yang perlu dijadikan keutamaan mereka. Maka sang genius Ustaz Al Banna datang dengan konsep Usrah, yakni keluarga. Dan melalui “keluarga” inilah rijal-rijal Muslim dilahirkan semula.

Tapi dari Individu Muslim, kita takkan boleh terus melompat kepada Empayar Islam. Ia perlu melalui fasa-fasa peningkatan. Dan fasa berikutnya adalah Baitul Muslim. Hal inilah yang menyuntik kebimbangan pada hati para akhwat. Kerana faktor bilangan akhwat yang barangkali lebih ramai di sesetengah kawasan, berbanding ikhwah. Maka konsep Baitul Muslim tidak dapat benar-benar dilaksanakan. Bukan soal kemampuan dan kelayakkan yang kita perlu bicarakan sekarang, soal bilangan saja kita sudah belum mampu dan belum cukup.

Aku tidak sampai hati untuk mengatakan “bilangan ikhwah sedikit”. Kerana setiap perkataan tersebut perlu perincian semula.

Bilangan- kalau bilangan ikhwah diukur kepada bilangan angka kosong di akhir nombor, mungkin benar, kita kekurangan ikhwah berbanding akhwat. Tapi kalau bilangan diukur kepada kapasitas dakwah, seperti Saidina Umar mengirimkan 4 orang rijal yang setiap daripadanya mempunyai kudrat seperti 1000 orang, kalau ini ukurannya, mungkin ikhwah sebenarnya sudah lebih dari cukup.

Ikhwah- siapa yang dimaksudkan sebagai ikhwah? Kalau yang betul-betul sudah dalam sistem sahaja yang disebut sebagai ikhwah, maka mungkin bilangannya memang kurang berbanding akhwat. Tapi kalau muslim baik yang komited, cuma belum diserap masuk, sudah boleh dikira satu categori, maka mungkin sebenarnya, isunya tidaklah terlalu membimbangkan. Ikhwah pun bukanlah malaikat. Boleh jadi dia ikhwah hari ini, tapi esok dia bukan lagi ikhwah. Akhwat juga begitu bukan?

Sedikit- ini yang paling perlukan pendetailan… sikit sangat kah? Atau sebenarnya kita yang tak susun dan assess betul-betul? Entah-entah sebenarnya sama ja bilangan kita. Kan?

Maka soalnya sekarang bukanlah ikhwah kurang buat kerja ke, atau akhwat terlalu ramai ke… Soalnya adalah keinginan dan kesungguhan. Seperti mana kita memandang serius soal pembinaan individu muslim dan keperluannya menuju Ustaziatul alam, seperti itu jugalah kita wajar memandang serius isu Baitul Muslim dan kepentingan pembentukannya kepada pembinaan Ustaziyatul Alam.. Sama sahaja. Apatah lagi bila kita mula membawa dakwah kepada masyarakat, masyarakat akan memerlukan contoh-contoh keluarga Islam yang dibina dengan asas-asas Islam yang benar. Masyarakat perlukan role model dalam pendidikan anak-anak dan pembinaan bi’ah solehah dalam keluarga. Semua keperluan masyarakat ini perlu dipenuhi oleh para du’at melalui pembinaan baitul muslim.

Kita juga harus memandang serius soal istiqamah dan thabat. Tidak cukup hanya berdoa. Tidak cukup hanya membina ukhuwwah. Tidak cukup hanya berpesan-pesan kepada sesama ikhwah atau sesama akhwat agar terus memberi peringatan kepada kita agar kita thabat. Tidak cukup. Kita perlu membina mekanisma yang kukuh yang boleh memastikan, inshaAllah, kita akan dapat bertahan lebih lama diatas jalan dakwah. Dan mekanisma yang terbaik itu adalah dengan mendirikan “rumah Islam” didalam kawasan dakwah ini. Yakni, mendirikan sebuah Baitul Muslim.

Saya belum berkahwin tetapi saya melihat ramai yang semakin bersungguh-sungguh di dalam dakwah kerana semakin jelas matlamat mereka selepas berkahwin. Berkahwin meningkatkan semangat dan proaktiviti kerana kita mula merasai kebersamaan dan kecintaan yang berpaksikan redha Allah. Kita akan mula belajar memberi lebih dan tadhiyyah. Kita akan melihat medan praktikal yang lebih luas kerana kepada suami dan anak-anaklah kita akan pantulkan segala akhlak islamiyyah yang dibentuk dalam liqa’-liqa’ kita. Kepada anak-anaklah kelak kita menumpahkan segala semangat, ilmu dan harapan yang kita perolehi di liqa’ dan program-program, kerana kita melihat masa depan Islam pada wajah-wajah mereka. Dan dalam masa yang sama, kita akan semakin dahaga dan laparkan himmah dan tarbiyyah kerana kepenatan tugas sebagai seorang isteri.

Baitul Muslim adalah booster iman yang sangat berkesan. Tapi ia tidak akan menjadi kenyataan tanpa adanya 2 insan yang satu hati diatas jalan dakwah.

Kita semua perlu memandang jauh. Tidak selamanya dakwah ini berputar dalam kawasan kita sahaja, dalam bilangan kita sahaja, dalam kalangan kita sahaja. Ia akan pergi lebih jauh dan akan kita akan tertinggal seandainya kita lambat bersedia. Kedua-dua ikhwah dan akhwat perlu berusaha. Kita perlu ada inisiatif. Suatu masa dahulu, Islam pernah tersebar luas di asia tenggara kerana perkahwinan putera dan puteri kerajaan Islam dengan putera-puteri kerajaan bukan Islam. Apa yang perlu adalah persiapan, keberanian dan kesungguhan. Ya, mungkin ia tidak semudah yang dikata dan disangka, tapi ia juga tidak mustahil untuk terlaksana. Dakwah tidak semestinya bermula di bangku-bangku IPT atau di program-program motivasi.

Boleh jadi seseorang itu akhirnya memahami dakwah dan menjadi ikhwah atau menjadi akhwat pada malam pertama perkahwinannya.

Tepuk dada, tanyalah semangat kita.