Semanis Kurma

Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah.

Memilih untuk berada di jalan basirah ini bukanlah satu pilihan yang mudah. Para du’at bisa saja untuk melepaskan diri mereka secara perlahan-lahan dari jalan dakwah yang berat ini dan kemudiannya kembali kepada kehidupan mereka yang dahulu—kehidupan yang banyak masa lapang, banyak hiburan, tidak perlu memikirkan masalah-masalah orang lain, tidak perlu memikirkan infaq-infaq yang belum dilunaskan, banyak masa untuk urusan-urusan pelajaran/pekerjaan, banyak masa untuk keluarga etc etc. Bisa saja para du’at melarikan diri, delete habis semua nombor ikhwah/akhwat didalam directory handphone dan buang terus kehidupan sebagai ansarullah. Tiada sesiapa pun yang boleh menghalang atau menghentikan keputusannya kalau dia memutuskan sedemikian.

Tapi, seorang da’ie yang benar dan jelas kefahamannya tidak mungkin mampu, tidak mungkin sanggup dan tidak mungkin mahu—sekalipun dia ada terfikirkan—untuk meninggalkan jalan dakwah.

Kerana mengeluarkan diri dari jalan dakwah, setelah diberikan hidayah, adalah ibaratnya melarikan diri dari syurga dan berlari menuju neraka. Allahu akbar.

Adakah kita sanggup terjun kedalam lumpur setelah dibersihkan?

Adakah kita sanggup masuk kedalam kegelapan setelah dimasukkan kedalam cahaya?

Adakah kita sanggup menjadi buta setelah diberikan penglihatan?

Adakah kita sanggup kembali kepada jahiliyyah setelah dikurniakan hidayah?

Tidak. Sekali-kali tidak.

Kita berdoa kepada Allah swt agar kaki-kaki kita terus terpasak kukuh diatas medan dakwah. Sekalipun kita dihujani panah-panah dunia, yang tidak henti dan hujanan peluru jahiliyyah yang tidak pernah sunyi, kita akan terus bertahan.

Dunia tidak akan berubah di tangan orang-orang yang lemah.

*****

Ingin aku kongsikan satu hadith yang sungguh membina keimanan dan cintaku terhadap Rasulullah saw serta terhadap jalan dakwah ini. Mudah-mudahan kalian turut beroleh manfaat yang banyak.

Dalam satu riwayat, disebutkan bahawa Rasulullah saw berhutang kepada seorang yahudi bernama Zaid Ibnu Sa’nah. Ketika waktu pembayaran kurang dua hari, ia datang kepada Rasulullah saw yang tengah berada di antara para sahabatnya. Orang itu menarik baju dan selendang Rasulullah saw lalu berkata: “Wahai Muhammad tidakkah kamu lunasi hakku? Demi Allah, saya tahu bahawa Bani Abdul Muthalib selalu mengulurkan (memanjangkan) waktu dalam melunasi hutang.”

Mendengar hal itu Umar naik pitam (terlalu marah) dan membentak Yahudi tersebut: “Wahai musuh Allah! apakah kamu berkata kepada Rasulullah apa yang baru saja aku dengar? Dan bertindak kepadanya sebagaimana apa yang aku lihat? Demi (Dia) yang diriku berada di tanganNya, sekiranya aku tidak mengkhawatirkan sesuatu yang akan luput dariku niscaya aku pukul kepalamu dengan pedangku.”

Namun Rasulullah saw segera menenangkan Umar r.a dengan penuh kelembutan dan berkata: “Wahai Umar, aku dan dia menginginkan selain itu, kenapa kamu tidak menasihati aku untuk segera melunasi dengan baik dan menasihatinya agar sopan dalam menagih hutang?, berikan haknya dan tambahlah kurma 20 sha.” 

Ketika Umar mengembalikan haknya dan tambahannya, Yahudi itu pun bertanya: “Apa tambahan ini?”

Umar lalu menjelaskan bahawa ‘tambahan tersebut adalah perintah dari Rasulullah saw karena aku telah membentakmu’. 

Mendengar penjelasan itu Yahudi itu pun berkata: “Wahai Umar, tidak ada sedikitpun tanda kenabian Muhammad, kecuali saya telah mengetahui ketika aku menatap wajah beliau. Namun ada 2 hal yang aku belum mengujinya, iaitu bahwa kesantunan beliau mendahului ketidaktahuannya dan kekerasan orang yang jahil akan menambahkan kesantunannya, dan kini aku telah menguji keduanya. 

Kerana itu saksikanlah wahai Umar bahawa aku rela Allah sebagai Rabbku, Islam sebagai agamaku dan Muhammad sebagai Nabiku, dan saksikanlah wahai Umar bahawa setengah dari hartaku aku sedekahkan untuk kepentingan umat Muhammad saw. 

Setelah keislamannya, Yahudi ini turut serta dalam berbagai peperangan bersama Rasulullah saw dan akhirnya syahid dalam Perang Tabuk.”

(HR Thabrani dan Ibnu Majah).

Wahai du’at, apakah kita lebih redha dengan dunia setelah Allah swt berkenan menghadiahkan kebaikan di akhirat?

Wallahul musta’an.

Advertisements

One thought on “Semanis Kurma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s