Romantic and Victorian

Saya mengambil subjek Romantic and Victorian ENGL1002 sebagai subjek elektif saya. Antara karya-karya yang dikaji adalah novel Persuasion karya Jane Austen, Wuthering Heights karya Emily Bronte dan beberapa sajak era Romantic dan Victorian. Saya memilih subjek ini atas rasa tanggungjawab dan minat yang tinggi dalam bidang kesusasteraan ini. Jikalau ada course Sastera Nusantara atau yang sewaktu dengannya, sudah pasti saya antara yang pertama-tama akan enrol.

Di dalam kelas elektif ini, seperti yang dijangka, saya seoranglah pelajar international, dan paling utama, saya seorang sahaja yang Muslim dan memakai hijab. Atas sebab ini, maka keIslaman saya pastilah jelas dan nyata.Alhamdulillah, walaupun begitu, tidak pernah pula saya didiskriminasikan. Alhamdulillah. Barangkali, saya belum cukup kuat untuk dugaan-dugaan seperti itu.

Walaupun begitu, fitrah sebagai manusia, bila kita lain dari orang, kita rasa tidak biasa. Saya sendiri merasa kekok,merasa berbeza, merasa kerdil pun ada juga kadang-kadang sebab saya seorang sahaja yang begini, saya seorang sahaja yang berhijab, saya seorang sahaja yang muslim, saya seorang sahaja yang bukan orang putih, maka saya rasa ‘asing’ sekali di dalam kelas itu.

Pun begitu, oleh kerana cinta saya kepada seni bahasa, maka saya bertekad untuk terus berusaha dan mendalami input-input yang dibincangkan di dalam kelas. Walaupun kadang-kadang rasa kurang yakin untuk participate dalam perbincangan. Terasa keasingan itu seolah-olah membentengi diri sendiri.

Saya mula mencari motivasi secara kendiri. Bila difikirkan kembali, benar, saya seorang sahaja berhijab dan saya seorang saja muslim di dalam kelas itu. Beerti, dalam banyak-banyak hati manusia di dalam kelas itu, barangkali hati saya saja yang pernah dengar pasal Allah dan Islam, dalam banyak-banyak dahi dalam kelas itu, barangkali dahi saya saja yang pernah sujud ke bumi menyembah Allah SWT, dalam banyak-banyak mulut dalam kelas itu, barangkali mulut saya saja yang pernah membaca Al Quran.

Memikirkan hakikat ini, perkara pertama yang mengetuk hati saya adalah rasa syukur yang tiada tergambar kepada Allah SWT. Bagaimana dalam jutaan manusia di bumi ini, Allah pilih kita untuk menjadi orang Islam, yang tahu Islam, tahu Al Quran, tahu solat, tahu puasa etc. Betapa ini suatu nikmat yang tiada terhingga. Betapa inilah suatu nikmat yang kita dapat, tetapi mereka tidak dapat. Dan betapalah kita sendiri tidak tahu sampai bila nikmat ini kan menjadi milik kita.Keduanya, saya terfikirkan betapa besar sebenarnya tanggungjawab kita, orang-orang yang telah mendapat nikmat ini, di atas bumi ini. Betapa ramainya yang belum pernah sujud menyembah Allah, dan barangkali tidak pernah tahu pun siapa Allah. Memikirkan hakikat ini, saya berasa terlalu kerdil di dalam kelas itu. Sedikit pun tidak mampu menyampaikan kebenaran Islam dan Al Quran kepada mereka.

Hakikatnya, setiap hari kita berjalan di atas bumi ini dengan 2 perkara yang saling terkaitan. Pertama, nikmat syahadah kita. Kedua, tanggungjawab syahadah kita. Bagaimana mungkin berbangga-bangga dengan nikmat Islam ini tetapi tidak terlaksana tuntutan-tuntutannya. Tidak cukup sekadar mensyukuri nikmat, tetapi melepaskan tanggungjawab yang tergalas. Ya, barangkali belum mampu menyampaikan kepada mereka yang tidak sama bahasa dengan kita, tapi kita masih ada saudara seagama, sebangsa, senegara, yang sepatutnya mendapat perhatian kita. Seharusnya Islam ini kita sampaikan kepada mereka dengan apa saja cara yang termampu.

Untuk diri saya, saya katakan, tak perlu merasa kecil dan kerdil(walaupun memang physically kecil dan kerdil) di dalam kelompok itu, kerana kata Allah,

“Dan janganlah kamu (merasa) lemah dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang beriman.” (Ali Imran: 139)

Moga-moga setiap perasaan dan emosi yang menghuni hati, akan membawa manfaat kepada diri, dan menjadi pemberat timbangan ke syurga nanti. Dan bukan hanya sebuah perasaan dan bukan hanya sebuah emosi yang sekadar manusiawi dan duniawi tetapi tiada nilai di akhirat nanti. Ameen.

Advertisements

8 thoughts on “Romantic and Victorian

    • yeah bashu..memang best but it’s apparently a lot more challenging due to the difficult and complex way of writing and words used in the literature…fuhh…tringat belajar my fair lady time kat KMB dulu…it’s almost similar to that text la…huahua..thanks for reading darling

  1. pa’a πŸ˜€
    blog ni sungguh colorful
    menarek2 πŸ˜€

    nape x letak shoutbox
    nak borak2 susah
    lol πŸ˜›

    p/s : mmg status kamu yg terabadi dlm blog anis tu haha πŸ˜›

    • anish..=) trime kaseh..saje wat kaleful…baru muda remaja sket =p saje x letak shoutbox…x best sgt shout2 ni…kalo ade whisperbox paa nak la…hehe…jazakillah anish for reading this…may Laskarmentari shines your day! =)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s